Newest Post

// Posted by :Unknown // On :Selasa, 07 Mei 2013



MAKALAH
BIOLOGI MOLEKULER


PENGEPAKAN DAN PENGEMASAN DNA









KELOMPOK 6

GRACE CHRISTINE                     H41111324
 MUH. HAIDIR ANSAL                 H41111325
YUSRIANI                                        H41111326
SULAEMAN                                     H41111327
MUH. ILHAMSYAH                       H41111328
NUR RAHMAH                               H41111

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala bimbingan dan penyertaan-Nya, sehingga makalah biologi molekuler dengan judul Pengepakan dan Pengemasan DNA  dapat selesai tepat pada waktunya.
Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa tiada gading yang tidak retak, begitupula makalah ini tidak luput dari kekurangan, maka tegur sapa yang bersifat membangun selalu dinanti.




















                                                                                    Makassar, 13 April 2013






                                                                                                   Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Informasi genetik sebuah sel, terdapat dalam bentuk DNA, yang disimpan dalam nukleus. Ruang di dalam nukleus sangatlah terbatas dan berisi miliaran nukleotida yang membentuk DNA sel. Oleh karena itu, DNA harus sangat terorganisir ( Anonim, 2010).
Kromosom memiliki peranan yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu makhluk hidup, karena kromosom merupakan alat pengangkutan bagi gen – gen yang akan dipindahkan dari suatu sel induk ke sel anakannya, dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Pengamatan terhadap perilaku kromosom sama pentingnya dengan mempelajari struktur kromosom. Perilaku atau aktivitas kromosom dapat terlihat dalam siklus sel, termasuk didalamnya adalah pembelahan sel (mitosis atau meiosis). Analisis kromosom, baik mitosis maupun meiosis merupakan langkah awal yang dapat dilaksanakan untuk mempelajari kromosom (Anonim 2010).
Di dalam inti terdapat benang-benang halus yang dapat menyerap warna yang disebut kromatin (chroma = berwarna, tin = benang). Pada tahap profase (fase awal ketika sel akan membelah diri), benang-benang kromatin memendek, menebal, dan disebut kromosom (chroma = berwarna, soma = badan). Didalam sel, DNA eukariot akan berpasangan secara tepat dengan adanya protein. Kompleks DNA dan protein ini disebut kromatin. Kromatin ini bisa muat didalam nukleus berkat sistem multitingkat  pengepakan atau pengemasan DNA (Dewan Redaksi, 1995).

II.2 Tujuan

            Adapun tujuan penyusunan makalah ini yakni :

1.    Mengetahui komponen yang terlibat dalam proses pengepakan DNA
2.    Mengetahui tahapan terjadinya proses Pengepakan DNA
















BAB II
PEMBAHASAN

Serangkaian diagram dan mikrograf elektron transmisi ini menggambrkan model terbaru tentang tingkat progresif pengumpalan dan pengulungan DNA. Ilustrasi diawali dari satu molekul tunggal DNA, diperbesar hingga menjadi kromosom metafase, yang cukup besar untuk dilihat dalam mikroskop cahaya. Komponen yang berperan dalam proses pengepakan DNA yakni protein histon (Campbell, dkk., 2008).
A.      Kromosom
Kromosom tersusun atas molekul DNA yang membawa keterangan genetik, oleh karena itu kromosom mempunyai arti penting dalam genetika. Nama kromosom diberikan oleh Waldeyer pada tahun 1888, sedang Morgan dalam tahun 1933 menemukan fungsi kromosom dalam pemindahan materi-materi genetik. DNA merupakan persenyawaan kimia pembawa materi genetik. Di dalam kromosom terdapat 35% DNA dari keseluruhan kromosom. DNA merupakan molekul hidup dan dapat mengadakan replikasi (menggandakan diri). Karena mengandung molekul DNA, kromosom pun dapat menggandakan diri. Selain itu, DNA merupakan tempat penyimpanan informasi genetika yang akan diwariskan kepada keturunannya. Kromosom dikatakan sebagai benang pembawa sifat, karena sifat-sifat makhluk hidup pada dasarnya tersimpan di dalam DNA yang terdapat di dalam kromosom (Anonim, 2010).









Gambar 1: Kromosom mengandung molekul DNA

Eukariota biasanya memiliki beberapa pasang kromosom linier, yang semuanya terkandung dalam inti sel, dan kromosom ini memiliki karakteristik dan bentuk tersendiri. Selama pembelahan sel kromosom akan  lebih padat hal ini dapat divisualisasikan dengan mikroskop cahaya. Bentuk kental disini yakni bentuk padat dari kromosom itu sendiri yang memiliki ukuran  sekitar 10.000 kali lebih pendek dari untai DNA linier. Namun, ketika sel-sel eukariotik tidak mengalami tahap yang disebut interfase, kromatin dalam kromosom akan kurang padat dan hal ini akan mempengaruhi proses transkripsi yang sedang berlangsung. (Anonim, 2008).
Berbeda dengan eukariota, DNA pada sel prokariotik umumnya hadir dalam bentuk kromosom yang melingkar tunggal,  terletak didalam sitoplasma. (seperti yang diketahui bahwa sel prokariotik tidak memiliki membran inti).  Kromosom prokariotik kurang kental atau padat dibandingkan kromosom eukariotik serta  tidak mudah diidentifikasi di bawah mikroskop cahaya. Kromosom pada organisme prokariotik ada yang berupa RNA saja. Ini dapat dijumpai pada virus mozaik (tembakau). Kromosom dapat pula berupa DNA saja misalnya pada virus T dan dapat pula mengandung keduanya yaitu DNA dan RNA seperti pada bakteri Escherichia coli (Anonim, 2010).




















Gambar 2 : Struktur Kromosom Eukariotik dan Prokariotik
Sumber : http://desybio.wordpress.com/2010/03/30/kromosom/

Pada berbagai sel eukariota tingkat tinggi, ada dua bentuk kromatin pada tahap interfase yaitu eukromatin dan heterokromatin. Suatu gen yang secara normal terekspresi pada bentuk eukromatin berpindah pada daerah heterokromatin menyebabkan terjadinya peredaman gen, yaitu terhentinya ekspresi gen tersebut. Perubahan bentuk kromatin ini merupakan salah satu mekanisme epigenetika (Anonim 2012)
Ø  Eukromatin
Eukromatin merupakan bentuk yang kurang padat, atau yang bentuk terbuka. Eukromatin berbentuk padat selama pembelahan sel, tetapi mengendur menjadi bentuk yang terbuka selama interfase. Eukromatin pada pewarnaan histologi kromosom ditunjukkan pada daerah dengan warna lebih terang.
Ø  Heterokromatin
Heterokromatin merupakan bentuk yang lebih padat, atau bentuk tertutup. Heterokromatin sangat padat pada saat pembelahan sel, demikian pula pada saat interfase. Heterokromatin pada pewarnaan histologi kromosom ditunjukkan pada daerah dengan warna lebih padat atau gelap.






Gambar 3: Struktur kromatin dalam Interfase


Nukleosom terdiri dari DNA untai ganda yang kompleks dengan protein kecil yang disebut histon. Partikel inti masing-masing nukleosom terdiri dari delapan molekul histon, dua masing-masing dari empat jenis histon yang berbeda: H2A, H2B, H3, H4 dan. Struktur histon telah sangat dilestarikan di evolusi, menunjukkan bahwa fungsi DNA kemasan mereka adalah sangat penting bagi semua sel eukariotik (Anonim 2012)








Gambar 4: Struktur Nukleosom dalam Kromatin

Histon membawa muatan positif dan mengikat DNA bermuatan negatif dalam konformasi tertentu. Secara khusus, segmen dari DNA double helix membungkus setiap partikel inti histon sedikit kurang dari dua kali. Panjang yang tepat dari segmen DNA yang berkaitan dengan masing-masing inti histon bervariasi dari spesies ke spesies, tetapi kebanyakan segmen tersebut sekitar 150 pasangan basa panjangnya. Selanjutnya, setiap molekul histon dalam partikel inti memiliki satu ujung yang mencuat dari partikel. Ujung ini disebut N-terminal ekor, dan mereka memainkan peran penting dalam orde yang lebih tinggi dalam struktur kromatin dan ekspresi gen (Anonim, 2012).
Meskipun nukleosom mungkin terlihat seperti diperpanjang  dan terlihat bagaikan manik-manik pada sebuah kalung di bawah mikroskop elektron, mereka tampak berbeda dalam sel hidup. Dalam sel-sel tersebut, nukleosom menumpuk terhadap satu sama lain dalam kesatuan yang  terorganisir dengan berbagai tingkat kemasan. Tingkat pertama kemasan diperkirakan menghasilkan serat sekitar 30 nanometer (nm) lebar. Ini 30 nm serat kemudian membentuk serangkaian loop, yang melipat kembali pada diri mereka sendiri untuk pemadatan tambahan (Anonim, 2012)







Gambar 5 :  Untaian DNA yang dikemas dalam Kromosom

Berbagai tingkat kemasan yang ada dalam kromosom eukariotik tidak hanya mengizinkan sejumlah besar DNA untuk menempati ruang yang sangat kecil, tetapi mereka juga melayani beberapa peran fungsional. Misalnya, perulangan dari serat nukleosom yang mengandung membawa daerah tertentu dari kromatin bersama-sama, sehingga mempengaruhi ekspresi gen. Bahkan, kemasan diselenggarakan DNA adalah mudah dibentuk dan tampaknya sangat diatur dalam sel (Anonim, 2008).


B.       Protein Histon
Histon merupakan jenis protein utama yang terlibat dalam pengepakan maupun pengemasan  DNA  pada kromatin eukariotik.  Bila ditinjau dari massa protein histon hampir memiliki massa yang sama dengan  DNA. Protein histon tersusun atas asam-asam amino bermuatan positif (Lisin dan Arginin) dalam jumlah besar, dan asam- asam ini akan berikat kuat dengan DNA yang bermuatan negatif.  DNA yang bermuatan negatif dikarenakan gugus posfat yang ada pada DNA tersebut. Selain itu dikenal pula protein non histon (NHC Protein) terikat pada sekuens spesifik yang tersebar sepanjang utas DNA ( Godman, 1996)
Secara umum protein histon berdasarkan jenisnya dibagi dua yaitu (Anonim, 2012):
1.        Histon nucleosomal
Jenis protein histon ini terdiri atas 4 tipe  yakni protein histon tipe H2A, H2B, H3, H4. Masing masing terdiri dari 102- 135 asam amino. Secara spesifik untuk H2A memiliki jumlah asam amino sebanyak 129, H2B sebanyak 125 asam amino, H3 sebanyak 135 asam amino dan untuk H4 sebanyak 102 asam amino. Protein ini telah dilestarikan selama evolusi pada makhluk hidup berlangsung. Keempat tipe histon ini sangat mirip pada eukariota. Kecuali dua asam amino pada H4 sapi identik dengan H4 ercis. Pelestarian gen gen histon saat evolusi mungkin mencerminkan peran penting histon dalam mengorganisasi DNA dalam sel.


2.        Histon dengan tipe H1
Jenis protein histon ini mengandung 223 asam amino . Fungsi protein histon ini yaitu spesifik dalam mengemas nukleosom menjadi serat 30 nm. Selain itu histon H1 ini juga mengatur proses transkripsi dengan merepresi segmen DNA spesifik. Pada kepala sperma dijumpai adanya DNA dan protein histon, namun protein H1 diganti dengan protein dasar kecil yang disebut protamines (anonim, 2012)









Gambar 6: Protein Histon pada Nukleosom
H4 (Hijau), H3 (Bitu), H2A dan H2B ( Merah)

C.      Proses Pengepakan
                        Informasi genetik Sebuah sel, dalam bentuk DNA, disimpan dalam nukleus. Ruang di dalam nukleus terbatas dan harus berisi miliaran nukleotida yang membentuk DNA sel. Oleh karena itu, DNA harus sangat terorganisir. Ada beberapa tingkatan untuk kemasan DNA (Anonim, 2008)
                        Proses pengemasan DNA dan protein terjadi pada tahap profase. Proses yang terjadi adalah sebagai berikut (Anonim, 2010):
1.      Untai DNA dipintal dalam suatu protein histon. Protein histon ini mengikat DNA menjadi suatu unit yang disebut nukleosom.
2.      Nukleosom satu dengan lainnya bergabung membentuk benang yang lebih padat dan terpintal menjadi lipatan lipatan yang disebut dengan solenoid.
3.      Solenoid satu dengan yang lainnya bergabung dan lebih padat lagi membentuk benang yang disebut kromatin.
4.      Benang benang  halus kromatin memadat membentuk lengan kromatid. Lengan kromatid berpasangan membentuk kromosom.












Gambar 7: Tahap Pengepakan DNA
Kromosom juga digunakan sebagai cara untuk mengacu pada dasar genetik dari suatu organisme baik sebagai diploid atau haploid. Banyak sel eukariotik memiliki dua set kromosom dan disebut diploid. Sel-sel lain yang hanya berisi satu set kromosom disebut haploid (Anonim, 2008)
Kromosom juga memainkan peran penting dalam fenomena penuaan kematian terkait sel. Pada ujung kromosom yang disebut telomere segmen. Sebagai DNA sel rusak, telomeres diperpendek. Setelah telomere telah dikurangi ke tingkat, sel memutuskan bahwa hal itu tidak bisa lagi memperbaiki dirinya sendiri dan inisiasi apoptosis, proses kematian seluler. Hari ini, banyak upaya penelitian telah dikhususkan untuk menjelaskan mekanisme tertentu dengan yang telomere menyebabkan kematian sel (Anonim, 2008)
Ø  Pada Sel Prokariotik
Histon H1 letaknya  di bagian tepi nukleosom adanya molekul H1  berukuran lebih besar 20 pb disebut dengan kromatosom. DNA nuklir dihubungkan dengan DNA-BINDING protein atau yang disebut histones. Beberapa nuclease perlindungan chromatin (DNA-HISTONE kompleks) mempertahankan struktur chromatin. Brown nuclease merupakan perlindungan mengadakan percobaan yang kompleks yang diperlakukan dengan suatu enzim untuk memotong DNA dan memposisikannya pada pasangannya. Ukuran DNA fragmen menandai adanya posisi dari protein yang kompleks. (Hans Jurgen Press. 1989).
           Pengemasan terjadi dengan cara pelilitan DNA di sekeliling  sumbu nukleosom, Sumbu nukleosom tersusun atas empat macam histon sumbu: H2A, H2B, H3, dan H4. Keempat macam histon ini berada dalam bentuk oktamer (dua molekul) Protein histon sumbu bersifat basa/ bermuatan positif  (banyak  arginin & lisin) (Godman, Arthur. 1996).
Setiap untai DNA sepanjang 146 pb mengelilingi satu sumbu nukleosom, sedangkan bagian-bagian DNA lainnya menjadi penghubung (linker)   antara satu sumbu nukleosom dan sumbu nukleosom berikutnya. Pelilitan DNA di sekeliling sumbu nukleosom berlangsung dengan arah ke kiri atau terjadi superkoiling negatif. Pelilitan terjadi demikian kuat karena DNA bermuatan negatif, sedangkan histon sumbu bermuatan positif.  Struktur ‘Beads-On-A-String’ yang ditunjukkan di atas menghadirkan suatu pembongkaran format dari chromatin yang terjadi hanya di nucleus. Terbentuknya rangkaian heliks nukleosom  terlihat sebagai serabut dengan diameter 30 nm yang dikenal sebagai serabut 30 nm. histon H1 berfungsi menstabilkan struktur serabut 30 nm (Kimball, J.W. 1990).
Ø  Pada sel Eukariotik
Berbeda dengan DNA prokariot yang berbentuk sirkuler tertutup, DNA eukariot merupakan molekul linier yang sangat panjang. Panjang DNA eukariot di dalam nukleus jauh melebihi ukuran nukleus itu sendiri. Oleh karenanya, agar dapat dikemas di dalam nukleus, DNA harus dimampatkan dengan suatu cara. Derajad pemampatan (kondensasi) DNA dinyatakan sebagai nisbah pengepakan (packing ratio)-nya, yaitu panjang molekul DNA dibagi dengan panjang pengepakannya. Sebagai contoh, kromosom manusia yang terpendek, yaitu kromosom nomor 21, berisi 4,6 x 107 pb DNA (sekitar 10 kali ukuran genom E. coli). Ukuran DNA kromosom ini setara dengan panjang 14.000 μm jika DNA ditarik lurus. Pada kondisi yang paling mampat, yaitu selama mitosis, kromosom tersebut panjangnya hanya sekitar 2 μm. Angka ini memberikan nisbah pengepakan sebesar 7.000 (14.000/2) (James Case F.James, Vernon Estiers. 1971).
Untuk mencapai nisbah pengepakan totalnya, DNA tidak langsung dikemas ke dalam struktur terakhirnya (kromatin). Pengemasan DNA dilakukan melalui sejumlah tingkatan organisasi kromosom. Tingkatan yang pertama diperoleh ketika DNA melilit-lilit di sekeliling sumbu protein sehingga menghasilkan struktur seperti manik-manik yang disebut nukleosom. Pada tingkatan ini terdapat nisbah pengepakan sebesar 6. Tingkatan yang kedua adalah pemutaran sejumlah nukleosom membentuk struktur heliks yang disebut serabut 30 nm. Struktur serabut 30 nm dijumpai baik pada kromatin interfase maupun pada kromosom mitosis. Dengan struktur ini nisbah pengepakan DNA meningkat menjadi sekitar 40. Pengemasan terakhir terjadi ketika serabut 30 nm tersusun dalam sejumlah kala, struktur tangga, dan domain, yang memberikan nisbah pengepakan tertinggi sebesar lebih kurang 1.000 pada kromatin interfase dan 10.000 pada kromosom mitosis (Lud Waluyo, 2005).
Kromosom eukariot terdiri atas suatu kompleks DNA-protein yang tersusun sangat kompak sehingga memungkinkan DNA yang ukurannya begitu panjang tersimpan di dalam nukleus. Istilah bagi struktur dasar kromosom adalah kromatin, sedangkan satuan dasar kromatin adalah nukleosom. Dengan demikian, kromatin merupakan satuan analisis kromosom yang menggambarkan struktur umum kromosom (Lud Waluyo,. 2005).

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari isi makalah ini yakni :
1.        Komponen yang terlibat dalam proses pengepakan DNA yakni protein histon yang akan memintal DNA menjadi nukleosom. Protein histon ini terdiri dari H2A, H2B, H3, dan H4 yang tersusun atas asam amino dengan jumlah sekitar 139 .
2.        Tahapan pengepakan DNA dimulai dari Untai DNA dipintal dalam suatu protein histon, menjadi suatu unit yang disebut nukleosom. Nukleosom satu dengan lainnya bergabung membentuk benang yang lebih padat dan terpintal menjadi lipatan lipatan yang disebut dengan solenoid. Solenoid satu dengan yang lainnya bergabung dan lebih padat lagi membentuk benang yang disebut kromatin. Benang benang  halus kromatin memadat membentuk lengan kromatid. Lengan kromatid berpasangan membentuk kromosom.







DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2008, Packing DNA , http://www.nature.com/scitable/chromose, diakses pada hari Sabtu, 13 April 2013 pukul 22.30 WITA

Anonim, 2010, Kromosom, http://desybio.wordpress.com/2010/03/30/kromosom/, diakses pada hari Sabtu, 13 April 2013 pukul 22.00 WITA.

Anonim, 2012, Packaging DNA, http://www.biologyexams4u.com/2012/03/dna-packaging.html, diakses pada hari Sabtu, 13 April 2013 pukul 22. 15 WITA.

Campbell, N. A., J. B. Reece, and L. E. Mitchell, 2008, Biologi jilid 2, Erlangga, Jakarta.

Dewan Redaksi, 1995, Oxford Ensiklopedi Pelajar Jilid 8,  PT Widyadara, Jakarta

Godman, Arthur, 1996, Kamus Sains Bergambar, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hans Jurgen Press, 1989, Melacak Alam, Angkasa, Bandung.

James Case F.James, Vernon Estiers. 1971. Biology Observation and Consept. Canada: The Magmillan Company.

Kimball, J.W., 1990, Biologi Jilid 1, 2, dan 3, Terjemahan S.S Tritrosomo dan
Nawangasari. S., Jakarta: Erlangga

Lud Waluyo,. 2005, Mikrobiologi Umum, UMM Press,  Malang. 


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

// Copyright © .Read with ChocoHazenut //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //